Selasa, 15 September 2026
Hot

Kemenkes dan WHO Gelar KATALIS-HEAT, Atasi Ancaman Cuaca Panas di Indonesia

Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan dan WHO, meluncurkan KATALIS-HEAT pada 8–9 Juli 2026. Program ini bertujuan memahami serta mengatasi dampak kesehatan akibat cuaca panas ekstrem, melibatkan berbagai kementerian dan universitas.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Indonesia mengambil langkah strategis dalam menghadapi ancaman kesehatan dari cuaca panas ekstrem dengan meluncurkan program Knowledge, Assessment & Targeted Action for Local Implementation and Solutions for Heat-Health (KATALIS-HEAT). Peluncuran ini diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, WHO Asia–Pacific Centre for Environment and Health in the Western Pacific Region (ACE), serta WHO Indonesia pada 8–9 Juli 2026.

Inisiatif ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai dampak cuaca panas di Indonesia, serta mendorong aksi lintas sektor di berbagai tingkatan pemerintahan. Tujuannya adalah untuk menyiapkan dan merespons cuaca panas ekstrem yang kian menjadi salah satu ancaman terkait iklim paling mematikan di dunia.

Memahami Ancaman Cuaca Panas Ekstrem

Cuaca panas ekstrem memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan penduduk global, termasuk di Indonesia. Negara ini, sebagai anggota WHO Kawasan Pasifik Barat, berkomitmen untuk menekan penyakit dan kematian yang dapat dicegah akibat cuaca panas.

Meskipun Indonesia semakin rentan terhadap cuaca panas ekstrem, informasi spesifik mengenai dampak kesehatannya masih terbatas. Keterbatasan ini menghambat kemampuan untuk mengembangkan respons yang terarah dan berbasis bukti, serta strategi adaptasi yang efektif.

Article ad in the middle of article

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Solusi

Peluncuran KATALIS-HEAT melibatkan berbagai pihak penting, termasuk Global Heat Health Information Network (GHHIN) Southeast Asia Hub, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Kolaborasi ini memperkuat upaya nasional dalam menghadapi tantangan iklim.

Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Diponegoro turut menjadi mitra implementasi lokal dalam program ini. Mereka berkontribusi dengan keahlian masing-masing untuk meningkatkan kapasitas inisiatif kesehatan terkait cuaca panas di masa mendatang.

KATALIS-HEAT dirancang untuk membentuk pemahaman menyeluruh tentang dampak kesehatan dari cuaca panas. Program ini juga mendorong kesiapan dan respons lintas sektor serta tingkatan pemerintah terhadap cuaca panas ekstrem.

Proyeksi Peningkatan Suhu dan Dampaknya

Upaya ini didasari oleh Rencana Adaptasi Perubahan Iklim Nasional 2026-2030, yang mengidentifikasi paparan cuaca panas sebagai risiko iklim utama bagi Indonesia. Rencana tersebut mencatat kenaikan suhu rata-rata telah mencapai sekitar 0,81 °C dari periode 1991–2020, dengan proyeksi kenaikan sebesar +1,0 °C hingga +1,5 °C pada tahun 2050.

Frekuensi kejadian hari panas (hot-day events) diperkirakan akan meningkat dua kali lipat hingga tahun 2050, sementara malam hangat (warm-night events) bisa meningkat tiga kali lipat hingga 2100. Paparan cuaca panas ekstrem juga diperburuk oleh faktor-faktor kontekstual seperti peningkatan urbanisasi.

Fokus dan Dukungan Program

Proyek KATALIS-HEAT tahun ini berfokus pada beberapa kegiatan utama. Ini meliputi kajian lanskap komprehensif untuk mengintegrasikan bukti dan tindakan terkait cuaca panas, analisis dampak tingkat lokal, uji coba perencanaan aksi kesehatan cuaca panas tingkat kabupaten/kota, serta dialog kebijakan nasional.

Kegiatan-kegiatan ini akan berkontribusi pada pengembangan peta jalan aksi kesehatan terkait cuaca panas, sebuah langkah krusial dalam mempersiapkan dan merespons dampak cuaca panas ekstrem di Indonesia. Proyek KATALIS-HEAT terlaksana berkat dukungan dari Rockefeller Foundation.

Article ad after last paragraph