HARIANEXPRESS – Soyou dibuat terkejut setelah mengetahui berat badannya turun menjadi 49,1 kilogram selama menghabiskan waktu di Bali. Alih-alih kembali mengejar penurunan angka timbangan, mantan personel SISTAR itu memilih memperbaiki pola makan dan memusatkan latihan pada pembentukan massa otot.
Menjaga berat badan tidak selalu berarti mengejar angka serendah mungkin di timbangan. Perubahan berat tubuh juga perlu dilihat bersama pola makan, aktivitas fisik, massa otot, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Pengalaman tersebut turut menjadi perhatian penyanyi Korea Selatan Soyou ketika menjalani liburan sekitar satu bulan di Bali.
Dalam vlog yang diunggah melalui kanal YouTube Soyougi pada Desember 2025, Soyou memperlihatkan momen ketika menimbang berat badannya. Angka yang muncul adalah 49,1 kilogram, yang menurutnya merupakan berat paling ringan sejak ia tiba di Bali.
Hasil itu mengejutkannya karena Soyou mengaku tidak sedang berusaha menurunkan berat badan. Sebaliknya, ia merasa tetap banyak makan dan bahkan sengaja meningkatkan konsumsi karbohidrat karena ingin menambah berat tubuh.
Tak Sekadar Mengejar Angka Timbangan
Setelah mengetahui perubahan berat badannya, Soyou memilih menetapkan target berbeda. Ia ingin lebih fokus membangun otot dengan memperbaiki asupan makanan sekaligus meningkatkan latihan sebelum kembali ke Korea Selatan.
Pendekatan tersebut menarik karena dalam konteks kesehatan, berat badan hanyalah salah satu parameter kondisi tubuh. Angka pada timbangan tidak dapat menunjukkan secara langsung berapa banyak massa otot, lemak, maupun komponen tubuh lainnya.
Karena itu, perubahan berat badan sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan apakah angkanya naik atau turun, terlebih tanpa mengetahui tinggi badan, kondisi kesehatan, pola makan, dan komposisi tubuh seseorang.
Aktif Berolahraga Selama di Bali
Selama berada di Pulau Dewata, Soyou memang menjalani perjalanan yang cukup aktif. Selain menikmati wisata dan kuliner, ia mengikuti sejumlah aktivitas kebugaran.
Soyou mencoba latihan peregangan menggunakan alat yang membuat tubuhnya berada dalam posisi menggantung. Ia juga mengikuti kelas yoga hingga aktivitas relaksasi berupa sound healing.
Aktivitas fisik teratur merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas tinggi, serta latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.
Namun, jenis dan intensitas latihan tetap perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kemampuan fisik, serta tujuan masing-masing individu.
Pernah Kurangi Lemak dan Tingkatkan Massa Otot
Perhatian Soyou terhadap kebugaran sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, ia mengungkap telah mempelajari dan menyusun program latihannya selama sekitar satu setengah bulan.
Dari rutinitas tersebut, Soyou mengklaim massa ototnya meningkat sekitar 1,2 kilogram, sementara massa lemaknya berkurang sekitar 5,5 kilogram. Ia juga mulai memasukkan latihan kardio yang sebelumnya sempat dihindarinya karena khawatir kehilangan volume otot.
Pengalaman tersebut menunjukkan pergeseran fokus dari sekadar berat badan menuju komposisi tubuh dan kebugaran fisik.
Latihan aerobik dan latihan kekuatan memang memiliki fungsi berbeda yang dapat saling melengkapi. Aktivitas aerobik berkaitan dengan kebugaran kardiorespirasi, sementara latihan penguatan membantu mempertahankan maupun meningkatkan kekuatan dan massa otot.
Pola Makan Tetap Memegang Peranan Penting
Selain olahraga, Soyou juga memberi perhatian pada pola makan. Dalam pengalaman dietnya sebelumnya, ia menyebut konsumsi sayuran sebagai salah satu bagian penting dari menu sehari-hari dan menegaskan bahwa dirinya tidak memilih metode diet dengan menahan lapar.
Secara umum, WHO menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya berlandaskan prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Makanan yang minim proses, termasuk sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber pangan bergizi lainnya, menjadi bagian penting dari pola tersebut.
Dengan demikian, memperbanyak atau mengurangi satu jenis zat gizi saja bukanlah ukuran tunggal keberhasilan pengelolaan berat badan.
Kebutuhan energi dan zat gizi setiap orang juga berbeda, sehingga pola makan ideal perlu mempertimbangkan usia, jenis kelamin, aktivitas, kondisi kesehatan, dan tujuan individu.
Hati-Hati Meniru Pola Diet Selebritas
Ada bagian dari pengalaman pribadi Soyou yang perlu ditempatkan secara hati-hati. Dalam artikel sumber, Soyou sempat menyampaikan pandangan pribadinya mengenai pilihan minuman beralkohol ketika sedang mengontrol pola makan. Pernyataan tersebut tidak sebaiknya diperlakukan sebagai rekomendasi kesehatan.
WHO menegaskan bahwa tidak ada bentuk konsumsi alkohol yang sepenuhnya bebas risiko bagi kesehatan. Bahkan konsumsi dalam jumlah rendah tetap membawa sejumlah risiko kesehatan, sementara besarnya risiko dipengaruhi jumlah dan pola konsumsi serta kondisi individu.
Hal serupa berlaku untuk berbagai pola diet maupun olahraga yang dilakukan figur publik. Respons tubuh setiap orang berbeda sehingga hasil yang dialami seseorang belum tentu memberikan efek yang sama pada orang lain.
Kesehatan Lebih Luas dari Sekadar Berat Badan
Cerita Soyou selama berada di Bali pada akhirnya memberi satu gambaran penting: perubahan angka timbangan tidak harus selalu menjadi tujuan utama dalam menjaga kebugaran.
Pola makan yang seimbang, aktivitas fisik teratur, latihan kekuatan, istirahat yang cukup, serta evaluasi kondisi tubuh merupakan bagian yang lebih luas dari upaya menjaga kesehatan.
Jika terjadi penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak direncanakan dan berlangsung signifikan, terlebih disertai keluhan lain, pemeriksaan kepada tenaga kesehatan tetap menjadi langkah yang tepat.
Bagi mereka yang sedang merencanakan program penurunan berat badan atau peningkatan massa otot, pendekatan yang terukur dan sesuai kondisi individu jauh lebih penting daripada sekadar meniru pola makan maupun rutinitas olahraga seorang selebritas.


