HARIANEXPRESS – Raline Shah memilih pendekatan yang relatif fleksibel dalam menjaga kebugaran. Alih-alih menjalani diet ekstrem, ia lebih memperhatikan kualitas dan porsi makanan, tetap aktif melalui latihan beban serta aerobik, dan menyesuaikan rutinitas ketika bepergian. Pendekatan ini menempatkan kesehatan sebagai kebiasaan jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka di timbangan.
Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan aturan makan yang sangat ketat. Pola yang terlalu restriktif bahkan belum tentu menjadi pendekatan paling realistis untuk dipertahankan dalam jangka panjang.
Raline Shah memilih cara yang lebih fleksibel dalam menjalani kesehariannya. Ia justru menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai dua aspek yang perlu berjalan berdampingan.
Pendekatannya terlihat dari pola makan, rutinitas olahraga, hingga cara beradaptasi ketika sedang bepergian.
Memilih Makanan Minim Proses
Dalam kesehariannya, Raline mengatakan lebih memprioritaskan makanan alami dan berusaha membatasi makanan yang melalui pemrosesan berlebihan.
Prinsip tersebut sejalan dengan arah rekomendasi pola makan sehat WHO yang menekankan konsumsi makanan bergizi seperti biji-bijian utuh, sayuran, buah, kacang-kacangan dan sumber pangan bernutrisi lainnya, disertai pembatasan gula bebas, garam, serta lemak tertentu.
Namun, pola makan sehat tidak berarti seluruh jenis makanan harus dihilangkan.
Yang lebih penting adalah melihat kualitas pola makan secara keseluruhan, bukan menilai kesehatan seseorang hanya dari satu kali makan.
Tidak Menjadikan Makanan Favorit sebagai Pantangan
Raline tetap menikmati makanan yang disukainya, termasuk berbagai hidangan Indonesia. Pendekatannya lebih banyak berfokus pada porsi dan keseimbangan daripada larangan total.
Ketika mengonsumsi makanan yang digoreng, misalnya, ia memilih mengurangi porsinya dan memperbanyak sayuran.
Pendekatan tersebut lebih moderat dibandingkan memberi label bahwa satu jenis makanan selalu “buruk” dan makanan lainnya selalu “baik”.
Dalam praktik sehari-hari, kebutuhan energi dan zat gizi juga berbeda pada setiap individu, tergantung usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya.
Karena itu, pola makan ideal tidak harus identik antara satu orang dengan orang lain.
Jangan Meniru Diet Selebritas Secara Mentah
Meski kebiasaan Raline dapat menjadi inspirasi, rutinitas seorang figur publik tidak sebaiknya dijadikan standar universal.
Tubuh setiap orang memiliki kebutuhan berbeda.
Porsi makan, kebutuhan energi, kemampuan berolahraga, riwayat kesehatan, dan tujuan kebugaran tidak selalu sama.
Karena itu, seseorang tidak perlu meniru jumlah makanan, durasi latihan, atau rutinitas tertentu hanya karena pola tersebut terlihat berhasil pada orang lain.
Dalam konteks kesehatan, pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi individu jauh lebih penting dibandingkan mengikuti tren.
Tetap Fleksibel ketika Traveling
Fleksibilitas Raline juga terlihat saat bepergian ke luar negeri.
Ia mencontohkan bahwa ketika berada di Eropa dan nasi tidak mudah ditemukan, dirinya tidak memaksakan menu tersebut. Sumber karbohidrat dapat disesuaikan dengan pilihan makanan lain yang tersedia.
Cara seperti ini menunjukkan bahwa pola makan sehat tidak harus bergantung pada satu bahan makanan tertentu.
Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat dapat diperoleh melalui berbagai jenis pangan.
Yang lebih penting adalah bagaimana berbagai sumber tersebut disusun menjadi pola makan yang cukup, beragam, dan seimbang.
Konsisten dengan Latihan Beban
Jika pola makannya relatif fleksibel, Raline cukup disiplin dalam aktivitas fisik.
Ia mengatakan menjalani latihan beban sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Latihan penguatan otot memang menjadi salah satu bagian penting dari rekomendasi aktivitas fisik.
WHO menekankan bahwa aktivitas penguatan otot memberikan manfaat bagi kesehatan dan sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas fisik orang dewasa, disertai aktivitas aerobik secara teratur.
Latihan kekuatan juga tidak harus selalu dilakukan menggunakan beban berat.
Bentuknya dapat disesuaikan dengan usia, tingkat kebugaran, kondisi kesehatan, dan kemampuan masing-masing.
Jalan Kaki dan Berenang Jadi Pilihan Kardio
Selain latihan beban, Raline menyebut dirinya melakukan aktivitas aerobik seperti jalan kaki dan berenang selama sekitar 30–45 menit pada pagi hari.
WHO menyatakan bahwa aktivitas fisik secara teratur memberikan manfaat nyata bagi kesehatan fisik maupun mental. Aktivitas tersebut berkaitan dengan penurunan risiko berbagai penyakit tidak menular sekaligus mendukung kesehatan mental, tidur, fungsi kognitif, dan kesejahteraan.
Secara umum, orang dewasa dianjurkan melakukan setidaknya sekitar 150 menit aktivitas fisik aerobik intensitas sedang per minggu, dengan jumlah yang lebih tinggi dapat memberikan manfaat tambahan.
Namun, jumlah tersebut bukan target yang harus dicapai secara mendadak.
WHO juga menekankan bahwa aktivitas dalam jumlah berapa pun lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Olahraga Tetap Dilakukan Meski di Hotel
Kesibukan dan perjalanan tidak selalu membuat Raline meninggalkan aktivitas fisiknya.
Saat berada di hotel, ia mengatakan dapat menyempatkan sekitar 20 menit berjalan dengan incline di treadmill.
Kebiasaan tersebut memberikan contoh bahwa aktivitas fisik tidak selalu harus dilakukan dalam kondisi sempurna.
Ketika waktu terbatas, durasi latihan dapat disesuaikan.
Ketika fasilitas berbeda, jenis aktivitas juga dapat berubah.
Pendekatan seperti ini dapat membuat kebiasaan bergerak lebih mudah dipertahankan dibandingkan menunggu kondisi ideal yang belum tentu selalu tersedia.
Konsistensi Lebih Penting daripada Latihan Sesekali
Salah satu prinsip yang dapat ditarik dari rutinitas Raline adalah pentingnya konsistensi.
Aktivitas fisik memberikan manfaat ketika menjadi bagian dari kebiasaan, bukan hanya dilakukan secara sporadis.
WHO memasukkan berjalan kaki, bersepeda, olahraga, rekreasi aktif, dan berbagai bentuk gerakan lainnya sebagai aktivitas fisik yang dapat mendukung kesehatan.
Karena itu, olahraga tidak harus selalu berupa latihan intens di pusat kebugaran.
Seseorang dapat memilih jenis aktivitas yang paling memungkinkan untuk dilakukan secara teratur.
Kesehatan Tidak Hanya tentang Berat Badan
Dari perspektif kesehatan, angka berat badan atau bentuk tubuh tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang sehat.
Kesehatan juga berkaitan dengan kebugaran kardiorespirasi, kekuatan otot, kualitas pola makan, tidur, kesehatan metabolik, kondisi mental, serta banyak faktor lainnya.
WHO sendiri menempatkan aktivitas fisik sebagai salah satu faktor yang mendukung kesehatan secara luas, bukan hanya sebagai alat untuk mengontrol berat badan.
Karena itu, tujuan olahraga sebaiknya tidak semata-mata mengejar tubuh yang lebih kecil.
Tubuh yang lebih kuat, kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, serta kualitas hidup juga merupakan hasil yang penting.
Hubungan dengan Makanan Juga Perlu Diperhatikan
Raline turut berbicara mengenai pentingnya tidak terus-menerus merasa bersalah setelah menikmati makanan tertentu.
Pesan tersebut dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: pola makan sehat sebaiknya tidak berubah menjadi tekanan yang membuat seseorang memiliki hubungan penuh ketakutan dengan makanan.
Namun, pernyataan Raline mengenai mekanisme stres, kortisol, kembung, atau penumpukan lemak merupakan pandangan yang ia sampaikan dalam wawancara dan tidak sebaiknya diperlakukan sebagai penjelasan medis yang berlaku otomatis pada semua orang.
Respons hormonal dan perubahan berat badan merupakan proses biologis yang lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.
Karena itu, pesan yang lebih aman adalah menghindari pola makan ekstrem dan membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan tanpa tekanan berlebihan.
Bagaimana dengan Suplemen?
Raline juga mengatakan menggunakan vitamin C dan beberapa produk kolagen sebagai bagian dari rutinitas pribadinya.
Bagian ini perlu ditempatkan secara hati-hati.
Pengalaman pribadi seseorang menggunakan suplemen bukan bukti bahwa produk yang sama dibutuhkan atau memberikan manfaat yang identik bagi semua orang.
Kebutuhan suplemen bergantung pada kondisi kesehatan, pola makan, usia, kekurangan zat gizi tertentu, hingga penggunaan obat lain.
Karena itu, suplemen sebaiknya tidak dijadikan pengganti pola makan bergizi. Untuk penggunaan rutin atau kondisi khusus, pertimbangan tenaga kesehatan dapat diperlukan.
Pola Makan Sehat Lebih dari Sekadar Mengurangi Porsi
Pengaturan porsi memang dapat menjadi salah satu aspek dalam pola makan.
Namun, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya makanan.
Kualitas makanan juga penting.
WHO menekankan bahwa kualitas lemak yang dikonsumsi perlu diperhatikan. Lemak tidak jenuh dari sumber seperti ikan, alpukat dan kacang-kacangan lebih disukai dibandingkan lemak jenuh dan lemak trans. WHO juga menganjurkan pembatasan makanan tinggi lemak trans industri, termasuk sebagian makanan yang digoreng dan produk kemasan tertentu.
Dengan demikian, strategi sehat tidak cukup hanya berupa “makan lebih sedikit”, tetapi juga mempertimbangkan apa yang dikonsumsi secara keseluruhan.
Tidak Perlu Langsung Melakukan Olahraga Berat
Rutinitas Raline tergolong cukup aktif.
Namun, seseorang yang baru memulai olahraga tidak harus langsung melakukan latihan dengan frekuensi atau intensitas yang sama.
WHO menegaskan bahwa setiap aktivitas fisik tetap dihitung, dan orang yang belum aktif dapat memulai sesuai kemampuan sebelum meningkatkannya secara bertahap.
Prinsip tersebut penting karena memaksakan aktivitas yang jauh melampaui kemampuan justru dapat meningkatkan risiko kelelahan atau cedera.
Jenis latihan yang tepat juga perlu mempertimbangkan kondisi medis tertentu.
Sehat Bukan Proyek Jangka Pendek
Apa yang menarik dari pendekatan Raline Shah bukan sekadar pilihan makan atau jenis olahraganya.
Yang lebih relevan adalah caranya memperlakukan kesehatan sebagai rutinitas yang dapat disesuaikan dengan kehidupan nyata.
Ketika sedang traveling, pilihan makanan berubah. Ketika berada di hotel, durasi olahraga dapat dipersingkat. Ketika ingin menikmati makanan favorit, ia memilih mengatur porsinya daripada menerapkan larangan absolut.
Pendekatan tersebut membuat gaya hidup sehat terlihat lebih dekat dengan kebiasaan jangka panjang daripada program sementara.
Fokus pada Keseimbangan, Bukan Kesempurnaan
Pada akhirnya, pengalaman Raline Shah dapat dilihat sebagai contoh bagaimana kesehatan tidak harus dibangun melalui diet ekstrem.
Pola makan yang beragam dan berkualitas tetap menjadi dasar penting. Aktivitas aerobik dan latihan penguatan otot juga memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Di sisi lain, fleksibilitas tetap dibutuhkan agar kebiasaan tersebut dapat bertahan ketika kehidupan berubah.
Karena itu, pesan yang lebih relevan bukan bagaimana mendapatkan tubuh seperti Raline Shah, melainkan bagaimana membangun rutinitas yang dapat dijalani secara konsisten: makan dengan cukup dan seimbang, tetap aktif, tidak menjadikan makanan sebagai sumber tekanan berlebihan, serta menyesuaikan pola hidup dengan kebutuhan tubuh sendiri.
Jika tujuan utamanya adalah menurunkan berat badan, meningkatkan massa otot, atau mengelola kondisi kesehatan tertentu, pola makan dan olahraga sebaiknya disesuaikan secara individual bersama tenaga kesehatan yang kompeten.


