Jumat, 28 Agustus 2026
Hot

Bersepeda Jadi Cara Acha Septriasa Menjaga Tubuh Tetap Aktif, Liburan pun Bisa Tetap Sehat

Acha Septriasa menjaga kebugaran tubuh dengan bersepeda di Bali, menjelajahi Tampaksiring hingga Kintamani. Ini menunjukkan olahraga bisa terintegrasi dalam gaya hidup aktif dan liburan.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Menjaga kebugaran tidak selalu harus dilakukan di pusat kebugaran. Acha Septriasa menunjukkan bahwa aktivitas sederhana seperti bersepeda juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif, bahkan ketika sedang menikmati liburan. Saat berada di Bali, ia memilih mengayuh sepeda menyusuri kawasan Tampaksiring hingga Kintamani sambil menikmati suasana alam yang menenangkan.

Menjalani pola hidup aktif tidak selalu identik dengan latihan berat atau jadwal olahraga yang kaku. Aktivitas yang menyenangkan dan dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi cara realistis untuk menjaga tubuh tetap bergerak.

Hal tersebut terlihat dari keseharian Acha Septriasa. Di tengah waktu liburannya di Bali, aktris tersebut memilih tetap aktif dengan bersepeda melewati sejumlah kawasan di Pulau Dewata.

Perjalanannya dimulai dari Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Acha kemudian mengayuh sepeda melewati jalan dengan kontur naik-turun, kawasan pura, persawahan, hingga akhirnya berhenti di sebuah kafe di Kintamani dengan panorama Gunung Batur.

Article ad in the middle of article

Aktivitas tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa olahraga dapat menyatu secara alami dengan kegiatan sehari-hari.

Bersepeda sebagai Aktivitas Aerobik

Bersepeda merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik aerobik ketika dilakukan dengan intensitas yang membuat tubuh bekerja lebih aktif dalam periode tertentu.

Aktivitas aerobik merupakan bagian penting dari rekomendasi aktivitas fisik bagi orang dewasa. World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas tinggi, maupun kombinasi keduanya.

Artinya, aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk olahraga kompetitif.

Berjalan kaki, bersepeda, berenang, maupun bentuk aktivitas lain yang membuat tubuh bergerak dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan aktivitas fisik, selama intensitas serta durasinya sesuai kemampuan masing-masing individu.

WHO juga menekankan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah tertentu tetap lebih baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali.

Acha Terbiasa Bersepeda di Waktu Luang

Bersepeda ternyata bukan aktivitas yang hanya dilakukan Acha saat berlibur di Bali.

Menurut IDN Times, Acha telah terbiasa melakukan perjalanan dengan sepeda dalam jarak cukup jauh. Ketika berada di Sydney, Australia, ia juga kerap memanfaatkan akhir pekannya untuk bersepeda.

Kebiasaan seperti ini menunjukkan satu hal penting dalam membangun gaya hidup aktif: menemukan bentuk aktivitas fisik yang benar-benar disukai.

Ketika olahraga dapat dinikmati, aktivitas tersebut lebih mudah ditempatkan sebagai bagian dari rutinitas dibandingkan apabila olahraga selalu dipandang sebagai kewajiban.

Dalam kasus Acha, bersepeda tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas fisik, tetapi juga menjadi sarana menikmati waktu luang dan menjelajahi lingkungan sekitar.

Tetap Bergerak Meski Sedang Liburan

Liburan sering menjadi waktu untuk keluar dari rutinitas. Namun, perubahan rutinitas tidak berarti tubuh harus berhenti bergerak sepenuhnya.

Acha justru memanfaatkan waktunya di Bali dengan mengombinasikan kegiatan rekreasi dan aktivitas fisik.

Ia mengayuh sepeda melalui kawasan Tampaksiring yang memiliki jalan naik-turun, berhenti di sejumlah area pura, menikmati pemandangan persawahan, serta berinteraksi dengan masyarakat yang ditemuinya selama perjalanan.

Pendekatan seperti ini menggambarkan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari rekreasi.

Seseorang tidak harus membatasi olahraga pada treadmill atau peralatan pusat kebugaran. Aktivitas luar ruang juga dapat menjadi pilihan selama dilakukan sesuai kemampuan tubuh dan kondisi masing-masing individu.

Aktivitas Fisik Penting untuk Kesehatan

WHO menempatkan aktivitas fisik secara teratur sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan. Organisasi tersebut juga mencatat bahwa kurangnya aktivitas fisik masih menjadi persoalan kesehatan global. Sekitar 31 persen populasi dewasa dunia pada 2022 tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimum.

Karena itu, membangun kebiasaan bergerak dapat dimulai dari aktivitas yang sederhana dan realistis.

Tidak semua orang harus bersepeda dalam jarak jauh seperti yang dilakukan Acha. Intensitas, durasi, dan bentuk aktivitas perlu menyesuaikan kemampuan serta kondisi kesehatan masing-masing.

Bagi seseorang yang baru mulai aktif, konsistensi menjadi lebih penting daripada memaksakan latihan dengan intensitas tinggi sejak awal.

Berolahraga Sekaligus Menikmati Alam

Ada sisi menarik lain dari aktivitas bersepeda Acha di Bali.

Rute yang dipilihnya melewati kawasan pedesaan dengan hamparan sawah hijau. Menurut artikel sumber, Acha terlihat menikmati suasana tersebut dan merasa rileks selama perjalanannya.

Hal ini membuat olahraga tidak hanya menjadi kegiatan untuk mencapai target kebugaran, tetapi sekaligus pengalaman rekreasi.

Seseorang dapat menikmati pemandangan, berhenti ketika diperlukan, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Model aktivitas semacam ini dapat menjadi alternatif bagi mereka yang merasa rutinitas olahraga di ruang tertutup cenderung monoton.

Tidak Harus Mengejar Olahraga Berat

Salah satu kekeliruan yang kerap muncul ketika memulai gaya hidup aktif adalah anggapan bahwa olahraga baru dianggap berarti jika dilakukan dengan intensitas tinggi.

Padahal, rekomendasi WHO menunjukkan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas sedang pun memiliki tempat penting dalam pola hidup aktif. Target mingguan dapat dicapai melalui akumulasi aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten.

Karena itu, memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi tubuh jauh lebih rasional dibandingkan memaksakan diri mengikuti pola latihan orang lain.

Bersepeda santai, misalnya, dapat terasa lebih menyenangkan bagi sebagian orang. Sementara orang lain mungkin lebih nyaman berjalan cepat, berenang, atau melakukan aktivitas aerobik lainnya.

Hal terpenting adalah menjaga tubuh tetap bergerak secara teratur.

Kebugaran Dibangun dari Kebiasaan

Perjalanan Acha juga menunjukkan bahwa gaya hidup aktif tidak selalu membutuhkan momen khusus.

Ia menjadikan bersepeda sebagai bagian dari akhir pekan ketika berada di Sydney dan tetap melakukannya ketika sedang berlibur di Bali.

Konsistensi semacam ini menjadi relevan karena kebugaran tidak terbentuk hanya dari satu sesi olahraga.

Aktivitas fisik lebih ideal dipandang sebagai bagian dari kebiasaan jangka panjang—disesuaikan dengan usia, kondisi fisik, pekerjaan, serta kemampuan masing-masing.

Untuk orang dewasa, WHO juga merekomendasikan aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama setidaknya dua hari dalam seminggu, sebagai pelengkap aktivitas aerobik.

Dengan demikian, bersepeda dapat menjadi salah satu bagian dari pola aktivitas yang lebih menyeluruh, bukan satu-satunya jenis latihan yang harus dilakukan.

Dengarkan Kemampuan Tubuh

Meski aktivitas fisik membawa manfaat, olahraga tetap sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan.

Rute yang dilalui Acha, misalnya, memiliki medan naik dan turun. Pengalaman dan kebiasaannya bersepeda jarak jauh tentu menjadi konteks penting dalam melihat aktivitas tersebut.

Apa yang nyaman dilakukan seseorang belum tentu sesuai bagi orang lain.

Karena itu, seseorang yang baru memulai olahraga sebaiknya tidak menjadikan aktivitas figur publik sebagai standar yang harus ditiru persis.

Tujuan yang lebih realistis adalah menemukan intensitas yang dapat dilakukan secara aman, bertahap, dan konsisten.

Liburan Sehat Tidak Harus Rumit

Perjalanan Acha Septriasa di Bali akhirnya menghadirkan gambaran sederhana mengenai gaya hidup aktif.

Olahraga tidak harus memisahkan seseorang dari aktivitas menyenangkan. Sebaliknya, bergerak dapat menjadi bagian dari liburan, perjalanan, maupun waktu untuk diri sendiri.

Acha menggabungkan keduanya.

Ia mengayuh sepeda melewati persawahan dan pura di Tampaksiring, menikmati lingkungan sekitar, kemudian mengakhiri perjalanan di sebuah kafe di Kintamani sembari menikmati sarapan dengan panorama Gunung Batur.

Cerita tersebut dapat menjadi pengingat bahwa menjaga tubuh tetap aktif tidak selalu membutuhkan program yang rumit.

Mulai dari berjalan kaki hingga bersepeda, aktivitas yang sederhana pun dapat menjadi bagian dari rutinitas sehat ketika dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kondisi individu.

Pada akhirnya, olahraga yang baik bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang dapat bergerak, melainkan tentang bagaimana aktivitas fisik dapat menjadi kebiasaan yang aman, realistis, dan tetap menyenangkan.

Article ad after last paragraph